Monday, 18 August 2014

Fashion Sporty


Fashion sporty menyumbang banyak dalam sejarah perkembangan fashion Amerika, dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup yang semakin gesit dari wanita Amerika. Istilah sporty mulai dipergunakan di industri fashion untuk menggambarkan busana informal. Dan pada tahun 1920 menjadi istilah deskriptif yang populer untuk busana santai, pakaian kasual yang biasa dipakai saat menonton acara olahraga.

Istilah ini juga dapat merujuk kepada activewear, yang merupakan pakaian yang dirancang khusus untuk peserta dalam kegiatan olahraga.

Para desainer pakaian olahraga awalnya kebanyakan produsen ready-to-wear, bukan rumah haute couture. Pakaian yang mereka buat dimaksudkan untuk menjadi lebih mudah dirawat dan dicuci, dengan desain praktis, diakses untuk mengaktifkan wanita modern, semakin membebaskan wanita untuk berpakaian tanpa seorang pembantu. Sementara kebanyakan mode lain di Amerika pada awal abad ke-20 secara langsung diadaptasi dari Paris, tidak demikian dengan mode sporty ini, mode ini menjadi sebuah penemuan yang sama sekali belum ada sebelumnya.



Pre-1930

Pakaian olahraga awalnya dibuat khusus untuk olahraga. Salah satu couturiers pertama yang mengkhususkan diri dalam hal ini adalah John Redfern yang pada 1870-an mulai merancang pakaian untuk wanita aktif yang melakukan kegiatan bermain tenis, pergi berperahu pesiar, dan melakukan panahan. Pakaian Redfern, meskipun ditujukan untuk kegiatan olahraga tertentu, diadopsi sebagai pakaian sehari-hari oleh kliennya, membuatnya menjadi desainer sporty pertama.

Awal abad ke-20 desainer asal Paris seperti Chanel Gabrielle menciptakan desain haute couture yang bisa dianggap sporty, meskipun mereka tidak secara eksklusif dibuat untuk olahraga. Chanel mempromosikan gaya hidup aktif dan mandiri secara finansial melalui rancagan jas jersey santai dan gaun rapi. Desainer lain yang menawarkan pakain sporty 'high end' yakni Jean Patou dan Elsa Schiaparelli. Berbeda dengan fleksibilitas olahraga Amerika, pakaian couture mahal ini diresepkan untuk dikenakan dalam keadaan yang sangat spesifik




1930-1970

Prekursor olahraga sejati muncul di New York sebelum Perang Dunia Kedua. Tahun 1930-an desainer seperti Clare Potter dan Claire McCardell ialah para desainer Amerika pertama yang mendapatkan pengakuan melalui desain pakaian inovatif mereka. Richard Martin menggambarkan desainer ini sebagai  "pemecahan masalah kecerdikan dan aplikasi gaya hidup yang realistis". McCardell telah disebut desainer olahraga terbesar Amerika. Pakaian praktis nya cocok untuk dress-code santai di Amerika, dan menjadi mapan selama 1930-an dan 1940-an. Pakaian sporty juga menggunakan unsur-unsur pakaian resmi atau kasual sporty seperti sweater malam dan rok malam melalui rancangan Clare Potter.

Banyak desainer sporty pertama adalah perempuan. Ada argumen umum yang mengatakan bahwa desainer perempuan mem-proyeksikan nilai-nilai pribadi mereka ke gaya baru ini. Pada 1930-an dan 40-an, jarang sekali terdapat pakaian yang praktis. Secara tradisional, mode paris banyak mencontohkan kecantikan, dan karena itu, desain sporty diperlukan untuk kriteria penilaian yang berbeda. Kehidupan pribadi desainer seringkali terkait dengan olahraga mereka.

Department store Shaver Dorothy of Lord & Taylor mengawali popularitas pakaian sporty dengan menggunakan angka penjualan yang tinggi sebagai tanda awal kemunculan pakaian sporty untuk kalangan umum. Tahun 1930-an dan 40-an desainer pakaian olahraga membebaskan mode Amerika dari kebiasaan menyalin Paris couture. Dimana mode Paris secara tradisional seringkali dikenakan pelanggan tanpa keinginannya, pakaian sporty Amerika adalah sebuah demokrasi, tersedia secara luas, dan mendorong ekspresi diri.



1970-2000

Pada 1970-an Geoffrey Beene, salah satu desainer sporty kenamaan, memasukan unsur-unsur pakaian pria menjadi pakaian wanita santai . Kecintaannya melapis pakaian dan elemen busana pria yang banyak digunakan oleh desainer abad awal. Pada tahun 1970, Bill Blass, yang memulai karir di industri mode pada tahun 1946, mendirikan perusahaan sendiri, Bill Blass Limited. Blass merancang pakaian untuk dipakai siang dan malam dan ia mengatakan telah mengangkat olahraga Amerika ke tingkat tertinggi. Seperti Beene, dia memperkenalkan sentuhan busana pria untuk olahraga, yang digambarkan dengan kesan clean, modern dan sempurna dalam gaya.

Rancangan Geoffrey Beene


Marc Jacobs, yang mendirikan label Eponymous pada tahun 1986, terkenal karena informalitas pakaian yang bisa dikenakan baik siang maupun malam hari. Akhir abad 20 desain sporty merambah ke profil tertinggi yang merupakan aristokrat industri seperti Ralph Lauren, Calvin Klein, Donna Karan , dan Tommy Hilfiger, yang masing-masing menciptakan gaya khas untuk wanita Amerika yang praktis, nyaman, namun tetap mewah.
Di samping Jacobs, desainer terkenal lainnya seperti Isaac Mizrahi, mempresentasikan koleksi sporty pertamanya pada tahun 1987.

2000

Pada tahun 2000, Monitor Lifestyle, sebuah majalah perdagangan Amerika yang dimiliki oleh Cotton Incorporated menerbitkan survei yang menunjukan bahwa rata-rata 64% perempuan yang diwawancarai menyukai pakaian casual, termasuk pakaian sporty yang aktif.

Desainer sporty New Yor terkemuka pada abad ke-21 termasuk Zac Posen, Proenza Schouler, Mary Ping, Derek Lam, dan Behnaz Sarafpour, memulai fashion show yang membawa tema sporty di musium Victoria & Albert New York pada tahun 2007.


Desainer yang biasanya tidak bekerja dalam tradisi olahraga seperti Monique Lhuillier kadang-kadang menggabungkan unsur olahraga dan activewear ke dalam pekerjaan mereka. Lhuillier, yang dikenal dengan rancangan gaun formal, memperkenalkan leher sporty dan elemen aerodinamis dalam koleksinya New York Fashion Week, Fall 2011.

Pakaian Sporty Di Luar Amerika

Pada akhir 1940-an dan 1950-an desainer non-Amerika mulai memperhatikan busana olahraga, dan berusaha untuk menghasilkan koleksinya. Couturiers Perancis seperti Dior dan Jacques Fath menyederhanakan desain mereka untuk produksi siap pakai, tapi pada awalnya hanya desainer Italia yang memahami prinsip sporty. Italia sudah duluan memiliki reputasi untuk kain halus dan pengerjaan yang sangat baik, dan munculnya kualitas tinggi dari Italia yang mengombinasikan kemewahan dan pakaian casual sporty dari Amerika menjamin keberhasilan di seluruh dunia fashion Italia pada pertengahan 1970-an. Desainer seperti Emilio Pucci dan Simonetta Visconti memahami bahwa ada pasar untuk pakaian yang mengombinasikan kecanggihan dan kenyamanan.

Kualitas pakaian sporty Italia awalnya diakui oleh Robert Goldworm, seorang desainer pakaian olahraga Amerika yang pada tahun 1947 bergabung dengan perusahaan keluarga Goldworm. Dengan dasar perusahaan terbesar kedua di Milan, Goldworm menjadi desainer yang pertama yang membuat pakaian rajut dengan mengambil keuntungan dari kualitas Italia dan membawanya ke pasar New York. Pada tahun 1959 Goldworm mendapat pengakuan atas promosi aktif dan dukungan untuk industri pakaian rajut Italia dari pemerintah Italia.

Pada abad ke-21, mode Italia tetap menjadi sumber utama untuk desain pakaian olahraga di luar Amerika Serikat. Narciso Rodriguez, yang terkenal dengan desain efisien, meluncurkan koleksinya di Milan pada tahun 1997, namun pindah ke New York pada tahun 2001. Miuccia Prada menghidupkan kembali nasib perusahaan keluarganya Prada dengan desain sporty berkualitas-nya di tahun 1990-an.

Inggris 


Desainer sukses asal Inggris, Stella McCartney, yang dikenal karena rancangan jumpsuits-nya. Diminta untuk merancang seragam atletik untuk Olimpiade 2012, membawa desain sporty kedalam dunia high-end



Sporty Meets Chic




Saturday, 16 August 2014

Fashion Preppy

Preppy, preppie, atau prep ( singkatan dari kata preparation = persiapan) mengacu pada subkultur di Amerika Serikat yang terkait dengan sekolah universitas preparatory.




Preppy adalah kata sifat Amerika sekaligus kata benda Amerika, sementara prep merupakan kata benda Amerika, secara tradisional digunakan dalam kaitannya dengan sekolah privat universitas preparatory di Northeastern dan menunjukkan orang yang dipandang sebagai karakteristik seorang peserta atau alumnus sekolah tersebut.  Karakteristik preps termasuk subkultur, kosakata, pakaian, tingkah laku, etiket, dan aksen yang mencerminkan pendidikan kelas atas di Northeastern telah diserap sebagai bagian dari budaya Amerika Serikat.

The preppy Istilah yang berasal dari sekolah persiapan pra-perguruan tinggi untuk anak-anak Amerika kelas menengah hingga atas di Northeastern. Istilah ini umumnya terkait dengan Ivy League dan universitas tertua di Northeast, karena secara tradisional tujuan utama dalam menghadiri sekolah persiapan adalah masuk ke dalam salah satu lembaga tersebut. Lisa Birnbach dalam buku tahun 1.980 Official Preppy Handbook,menulis dengan mengolok-olok kehidupan glamor mahasiswa East Coast tapi akhirnya malah memberi kesan yang baik kepada budaya, menggambarkan kelompok sosial rapi juga berpendidikan, baik-baik,  eksklusif, dan sopan kepada kelompok-kelompok sosial lain tanpa membina hubungan serius dengan mereka. Menjadi terdidik dan baik-baik mencerminkan status kelas atas mereka, serta status sosial ekonomi yang mendorong atribut yang mengarah ke pendidikan yang lebih tinggi dan keberhasilan profesional dengan penghasilan tinggi.




Preppy, istilah yang terkenal di antara orang Amerika, karena sebagian besar kelas menengah Amerika  mengenal subkultur di SMA. Namun, preps yang ditemukan di budaya SMA oleh masyarakat kelas menengah di Amerika Serikat berbeda dari preps tradisional yang ada di East Coast. Penggunaan istilah preppy di SMA, digunakan untuk merujuk ke pilihan fashion, bukan gaya hidup preppy yang terkait dengan prep tradisional di Northeastern. Tidak seperti preps tradisional Northeastern yang berasal dari keluarga kelas atas, preps SMA sering dari kelas menengah dan mungkin tidak dari latar belakang kelas atas.. Film Hollywood tahun 1980-an, seperti John Hughes '​​Sixteen Candles, Pretty in Pink, dan The Breakfast Club, menjadi icon preps SMA dari tahun 1980-an, yang menggambarkan kelompok 'rendah' dan transparan terutama berkaitan dengan hal-hal yang ekstrinsik. Saat itu pada dekade yang sama diterbitkan buku Handbook Preppy yang lebih terfokus pada preps tradisional. 




Fashion
Busana Preppy dimulai sekitar 1912 sampai akhir 1940-an dan 1950-an sebagai gaya Ivy League. J. Press mewakili merek pakaian preppy klasik, yang berasal dari tradisi perguruan tinggi yang membentuk subkultur preppy. Pada pertengahan abad kedua puluh J. Press dan Brooks Brothers, keduanya menjadi pelopor dalam mode preppy, memiliki toko di kampus-kampus sekolah Ivy League, termasuk Harvard, Princeton, dan Yale. 


Beberapa gaya preppy khas juga mencerminkan kegiatan rekreasi tradisional kelas atas New England, seperti berkuda, berlayar atau berperahu pesiar, berburu, anggar, dayung, lacrosse, tenis, golf, dan rugby. Brand-brand New England outdoor, salah satunya seperti LL Bean,  menjadi bagian dari gaya preppy konvensional. Hal ini dapat dilihat pada bidang olahraga dan warna, pakaian berkuda, kemeja kotak-kotak, jaket lapangan dan aksesoris bertema. Lifestyle berlibur di Palm Beach, Florida, yang populer dilakukan oleh masyarakat kelas atas, menyebabkan munculnya kombinasi warna cerah dalam pakaian santai dan bisa ditemukan di beberapa merek seperti Lilly Pulitzer.  Pada tahun 1980, merek lain seperti Lacoste, Izod dan Dooney Bourke menjadi terkait dengan gaya preppy. 




Bagi wanita profesional, mode preppy menjadi mendominasi pada awal tahun 1960-an, tren yang dipelopori oleh desainer seperti Perry Ellis, dan dipengaruhi oleh desainer seperti Oleg Cassini. Gaya preppy klasik sering terlihat dipakai oleh perempuan profesional di kota-kota Pantai Timur dan di tempat lain termasuk setelan jas rok, low heels, gaun wrap, gaun shift, sutra atau katun blus, dan perhiasan halus. Pakaian tersebut sering mencakup unsur-unsur yang diambil dari gaya preppy khas, seperti garis-garis laut, warna-warna pastel, atau rincian berkuda. Beberapa icon untuk gaya preppy bagi para perempuan profesional diantaranya Audrey Hepburn, Grace Kelly, Jacqueline Kennedy Onassis, dan abad ke-20 ada para New York sosialita seperti Gloria Guinness, Babe Paley, Slim Keith, dan CZ Guest, semua wanita tersebut gaya-nya sering direferensikan oleh desainer.




Dalam beberapa tahun terakhir, Brand-brand baru seperti Ralph Lauren, J. Crew, Vineyard Vines, dan Elizabeth McKay juga sering dianggap memiliki gaya preppy, dengan desainer seperti Marc Jacobs dan Luella Bartley menambahkan gaya preppy ke pakaian mereka pada 1990-an. New York City mempertahankan trademark sebagai markas bagi sebagian besar line gaya preppy, seperti J. Press, Brooks Brothers, Daniel Cremieux, Ralph Lauren, dan Kate Spade New York, membantu menggarisbawahi subkultur preppy sebagai cerminan budaya Northeastern. 

Contoh pakaian preppy lainnya ialah sweater Argyle, sweater crewneck, grosgrain atau ikat pinggang kulit tenunan, Oxford button down shirt, kalung mutiara dan anting-anting, gelang emas atau gelang rantai besar, sepatu, dan sepatu boat.

Proses Pembuatan Bahan Kulit Dan Tipe-Tipe Kulit

Leather adalah bahan yang tahan lama dan fleksibel yang diciptakan melalui proses penyamakan dari kulit hewan mentah, seringkali kulit sapi. Dapat diproduksi melalui proses manufaktur baik industri pabrik maupun rumahan.
Kulit digunakan untuk berbagai aplikasi pakaian (misalnya sepatu, topi, jaket, rok, celana dan ikat pinggang), cover buku, wallpaper kulit, dan sebagai penutup furnitur. Dihasilkan dalam berbagai jenis gaya dari beberapa teknik.


Berbagai Macam Produk Kulit dan Peralatan

Beberapa proses penyamakan yang merubah kulit mentah menjadi produk leather: 

Vegetable-tanned leather / Kulit Sayur : Proses penyamakan yang menggunakan tanin dan kulit kayu. Menghasilkan kulit yang kenyal dan berwarna coklat, dengan warna tergantung pada campuran bahan kimia dan warna kulit. Ini adalah satu-satunya jenis kulit yang cocok digunakan untuk ikat pinggang, ukiran kulit atau stamping. Karakteristik kulit ini tidak stabil di dalam air; cenderung berubah warna menjadi hitam, sehingga jika dibiarkan terendam dan kemudian dikeringkan akan menyusut dan menjadi kurang lentur, dan keras. Jika di rendam didalam air panas, akan menyusut secara drastis dan sebagian menjadi agar-agar, sebagian menjadi kaku dan akhirnya rapuh. Secara historis, kadang-kadang digunakan sebagai bahan baju besi setelah pengerasan, dan juga telah digunakan untuk book binding, dan sabuk.




Chrome Tanned Leather, ditemukan pada tahun 1858, disamak menggunakan kromium sulfat dan kromunium garam lainnya. Kulit ini lebih kenyal dan lentur dari vegetable tanned leather dan tidak menghitam atau kehilangan bentuk secara drastis didalam air.





Aldehyde-tanned leather: Disamak menggunakan senyawa glutaraldehid atau oxazolidine. Ini adalah kulit yang paling basah karena  berwarna krim pucat atau warna putih. Sering terlihat pada mobil dan sepatu untuk bayi.







Formaldehyde Tanning ( proses ini sedang dihapus karena bahannya berbahaya dan sensitif untuk pekerja  adalah metode lain dari penyamakan. Karakteristik kulit yang dihasilkan sangat menyerap air.



Brain Tanning: dibuat dengan proses padat karya yang menggunakan minyak emulsi, seringkali dari otak hewan. Mereka dikenal karena kelembutan yang luar biasa dan kemampuannya untuk dicuci.







Chamois leather masuk kedalam kategori aldehyde tanning, seperti kulit hasil dari brain tanning, kulit ini sangat menyerap air. Kulit chamois dibuat dengan menggunakan minyak (tradisional minyak cod) yang mengoksidasi dan membuat warna untuk kulit.




Rose Tanned Leather adalah variasi dari vegetable tanning oil dan brain tanning, di minyak rose otto menggantikan minyak sayur dan minyak emulsi. Disebut-sebut sebagai kulit paling mahal di muka bumi, disebabkan oleh tingginya biaya rose otto dan proses penyamakan padat karya-nya.




Synthetic-tanned leather,  disamak menggunakan polimer aromatik seperti novolac atau neradol. Kulit ini berwarna putih dan diciptakan ketika pasokan tanin oil sedikit selama Perang Dunia Kedua. Resin urea-formaldehida juga digunakan dalam metode tanning ini selama Formaldehyde Tanning dilarang.

Alum-tanned leather disamak menggunakan garam aluminium yang dicampur dengan berbagai pengikat dan sumber protein, seperti tepung dan kuning telur. Alum-tanned leather secara teknis tidak disamak, karena asam tanat tidak digunakan, dan material yang dihasilkan akan kembali ke Rawhide (kulit mentah) jika direndam dalam air cukup lama.



Rawhide (kulit mentah) kulit yang di iris sesuai ketebalan yang diinginkan, direndam dalam kapur, dan kemudian diregangkan ketika dikeringkan. Seperti alum-tawing, kulit mentah termasuk leather. Tapi biasanya disamakan dengan bentuk lain. Rawhide lebih kaku dan lebih rapuh daripada kulit lain; sering digunakan pada drum atau bedug dimana kelenturan tidak diperlukan.



Vegetable Tanned Leather bisa diminyaki untuk meningkatkan ketahanan airnya. Menggunakan suplemen minyak alami yang tersisa di kulit sendiri. Sering meminyaki kulit dengan mink oil dan semacamnya bisa meningkatkan umur kulit.



Tipe Tipe Kulit


Full Grain Leather mengacu pada kulit yang belum diampelas, digosok, atau dipadamkan. Permukaan yang tetap meningkatkan daya tahan serat. Permukaan yang masih alami juga memungkinkan kulit untuk bernafas, sehingga kelembaban selalu terjaga. Furniture kulit berkualitas tinggi dan alas kaki sering dibuat dari Full Grain Leather. Full Grain Leather biasanya tersedia dalam tiga jenis finishing: oil finished, anilin, semi-aniline dan napa leather. 



Oil Finishes

Minyak memberikan perlindungan serta tampilan yang unik kedalam permukaan kulit.

Pull Up Leather

Pull up merupakan full grain leather dengan aplikasi minyak. Minyak dapat bermigrasi ketika tekanan diterapkan pada permukaan dan akan kembali bila tekanan dilepaskan. Dengan demikian permukaan akan menunjukkan efek  saat ditekan atau ditarik. Kualitas kulit harus tinggi untuk membuat kulit jenis ini.



Oiled Nubuck

Oil nubuck mirip dengan  Pull-Ups tetapi memiliki permukaan nubuck. Pull up efek mungkin tidak terasa pada kulit ini.



Crazy Horse


Kulit ini bukan kulit kuda gila, melainkan kulit yang dibuat dengan penerapan lilin karena tujuan permukaan yang antik. Lilin dapat mencair dan bermigrasi di bawah gesekan panas. Alhasil saat permukaan kulit digosok warna tidak akan kembali, menghasilkan efek yang antik.






Top Grain Leather (jenis yang paling umum digunakan dalam produk kulit high-end) memiliki kualitas terbaik kedua dari Full Grain Leather. Karena beberapa lapisan telah di "split, sehingga lebih tipis dan lebih lentur dari full-grain. Permukaannya telah diampelas dan ditambahkan plastik sehingga kurang dapat bernafsa, dan tidak akan mengembangkan patina alami. Kulit ini biasanya lebih murah dan memiliki ketahanan noda lebih besar daripada full grain leather, asalkan proses finishing tidak terlewatkan.





Corrected-Grain Leather,  kulit yang telah ditambahkan permukaannya. Permukaan kulit dikoreksi karena kulit tidak memenuhi standar untuk digunakan dalam pembuatan full grain dan vegetable tanned leather. Ketidaksempurnaan dikoreksi atau diampelas, dan biji-bijian buatan ditambahkan ke permukaan dan dilengkapi dengan noda atau pewarna. Kebanyakan corrected grain leather digunakan untuk membuat kulit berpigmen karena pigmen padat dapat membantu menyembunyikan ketidaksempurnaan. Corrected grain dapat dibeli dengan dua finishing: semi-anilin dan pigmented.

Corrected Grain Memiliki Permukaan Yang Rapih Dan Teratur



Split-Leather adalah kulit dengan permukaan asli yang telah di pisahkan dari kulit mentah. Ketebalan diatur sesuai kebutuhan dan keretakan kulit yang terjadi di setiap lapisan. Splits juga digunakan untuk membuat suede. Suede memiliki dua sisi yang kasar. Produsen menggunakan berbagai teknik untuk membuat suede dari full-grain.



Tipe-Tipe Kulit Yang Kurang Umum


Bucksin Leather adalah proses penyamakan yang menggunakan otak hewan atau bahan lemak lainnya untuk mengubah kulit. Menghasilkan kulit yang kenyal.

Patent Leather adalah kulit yang telah diberi finishing high-gloss. Proses asli dikembangkan di Newark, New Jersey, oleh penemu Seth Boyden tahun 1818. Paten kulit biasanya memiliki lapisan plastik.

Fish Leather: kulit yang populer dengan motif dan pigmentasi nya. Terutama digunakan untuk membuat sepatu dan tas, kulit ikan disamak seperti kulit hewan lainnya. Spesies yang digunakan meliputi salmon, bertengger, sturgeon, dll.

Salmon: Ternak Salmon banyak dilakukan di Islandia dan Norwegia, kulit salmon memiliki sisik halus. Kekuatan dan tampilan yang elegan membuat kulit ikan ini populer.

Perch: berasal dari sungai Nil, kulitnya besar, bulat dan memiliki sisik yang lembut.
Wolffish: kulitnya lebih halus karena tidak memiliki sisik. Memiliki bintik-bintik gelap, dan 'garis' yang disebabkan oleh gesekan batu laut.

Cod: kulit yang lebih halus daripada salmon, tapi teksturnya lebih bervariasi, kadang-kadang halus dan terkadang kasar.

Sturgeon: Ikan yang telurnya sering digunakan untuk kaviar (makanan berbahan telur ikan) sehingga membuat ikan ini langka. Kulitnya pun menjadi mahal.

Eel: ikan tanpa sisik, kulitnya memiliki penampilan mengkilap.

Nila: dibandingkan dengan kulit salmon, pola kulit ikan nila lebih indah, tetapi kulitnya lebih kecil. Kulit ini memiliki kualitas ketahanan yang mirip dengan salmon. Ikan ini berasal dari Afrika, dan dibudidayakan di banyak negara tropis. Ini adalah ikan yang populer dan dianggap sebagai spesies invasif di sebagian besar Amerika Serikat.

Shagreen juga dikenal sebagai ikan pari. Sering diaplikasikan kedalam mebel art deco. Kulit ini termasuk kedalam kulit yang mahal

Shark: Dulu, tas yang berbahan kulit hiu banyak diminati. Tetapi minat menurun seiring dengan biaya produksi yang tinggi dan proses produksi yang sulit.

Vachetta Leather biasa digunakan dalam dashboard mobil dan tas. Kulit tidak ditambah cairan kimia dan karena itu rentan terhadap air dan noda. Sinar matahari akan menyebabkan kulit alami menggelap, penggelapan pada kulit biasa disebut patina.

Slink adalah kulit yang terbuat dari kulit anak sapi yang belum lahir. Hal ini membuatnya lembut dan digunakan dalam pembuatan sarung tangan.

Deer-Hide adalah kulit rusa dan dahulu termasuk kulit yang langka, mungkin karena habitat hewan yang berada pada semak-semak belukar yang berduri. Tetapi hari ini, kulit rusa telah digunakan oleh banyak masyarakat, termasuk penduduk asli Amerika. Kebanyakan kulit rusa modern tidak lagi diperoleh dari alam liar, melainkan dari peternakan rusa yang memang dikhususkan untuk produksi kulit. Bengkel samak kulit rusa banyak ditemukan di kota seperti Gloversville dan Johnstown di bagian utara New York. Kulit rusa digunakan dalam jaket dan mantel, peralatan seni bela diri seperti kendo dan bogu, serta aksesoris pribadi seperti tas dan dompet.

Nubuck adalah kulit yang permukaannya telah diampelas atau digosok , , menghasilkan permukaan seperti beludru.

Belting Leather adalah kulit full grain yang awalnya digunakan untuk sabuk katrol dan mesin lainnya. Belting kulit memiliki lapisan yang tebal dan kuat. Belting leather disamak dengan proses Vegetable tanned.

Nappa Leather adalah kulit yang disamak menggunakan krom dan berkarakter lembut dan kenyal. Kulit ini umumnya ditemukan di dompet, perlengkapan mandi, dan barang-barang kulit pribadi lainnya.

Hari ini banyak ditemukan kulit sintetis, namun masih menggunakan beberapa serat kulit asli. Dan hal ini tergantung pada pedagang, mereka masih dapat melabeli-nya dengan sebutan "Kulit Asli"​​, meskipun konsumen umumnya hanya dapat melihat lapisan luar dan tidak bisa melihat konten kulit.

Bonded Leather adalah jenis kulit ekonomis yang menggunakan sisa-sisa kulit organik (sering dari penyamakan kulit atau lokakarya kulit) yang diparut dan kemudian diikat dengan pengikat poliuretan atau lateks di atas selembar serat. Tingkat campuran organik (antara 10% dan 90%) mempengaruhi bau dan tekstur produk tersebut. Karena harganya yang murah, kulit ini menjadi pilihan populer untuk pelapis furnitur.


Bycast leather adalah kulit split dengan lapisan polyurethane yang dilaminasi ke permukaan dan kemudian ditimbulkan. Bycast leather awalnya dibuat untuk industri sepatu dan kemudian diadopsi untuk industri mebel. Karakter kulit ini adalah sedikit kaku tapi lebih murah daripada kulit top grain leather tetapi memiliki tekstur yang jauh lebih konsisten. Karena permukaannya yang benar-benar ditutup dalam plastik, memudahkan kulit ini untuk dibersihkan dan dipelihara, tetapi tidak mudah diperbaiki.


Kulit merupakan material yang indah, klasik, dan tahan lama. Hal ini membuat penggunaan kulit sangat digemari dalam industri fashion. Namun, beberapa vegetarian, vegan dan aktivis hak-hak binatang memboikot penggunaan semua barang yang terbuat dari kulit, karena praktek memakai kulit tidak perlu dan alternatif sintetis ada. Kelompok-kelompok hak hewan seperti PETA telah menyerukan boikot dan mendorong penggunaan bahan alternatif seperti kulit sintetis.

Banyak bahan sintetis telah dikembangkan, sehingga mereka yang ingin mengenakan pakaian berbahan kulit bisa menggunakannya tanpa harus menggunakan kulit asli. Salah satu contoh dari hal ini adalah microfiber vegan, yang diakui lebih kuat dari kulit asli ketika diproduksi . Ada juga bahan polyurethane, pleather, Naugahyde, Durabuck, NuSuede, Hydrolite, dan alternatif lain, menyediakan beberapa fitur yang mirip dengan kulit

Thursday, 14 August 2014

Mengenal Lebih Dalam Bahan Dasar Pakaian: Kain




Tenun adalah metode produksi kain di mana dua set benang berbeda menjalin satu sama lain dimulai dari sudut kanan untuk membentuk kain. Adapun metode lain yakni merajut, membuat renda, felting, mengepang atau anyaman. Benang yang membujur lurus disebut warp (lungsin) dan benang yang mengisi diantaranya disebut weft atau filling. (Weft dalam bahasa Inggris kuno berarti "yang ditenun") Metode di mana antar benang di tenun mempengaruhi karakteristik kain.

Kain biasanya ditenun dengan alat tenun yang disebut loom, sebuah perangkat yang menahan benang lungsin di tempat selagi diisi oleh benang lainnya. Sebuah band kain yang memenuhi definisi ini dari kain (benang lungsin dengan benang pakan berkelok-kelok antara) juga dapat dibuat dengan menggunakan metode lain, termasuk tablet tenun, back-tali, atau teknik lain tanpa alat tenun.

Cara lungsin (warp) dan benang pakan (weft) menjalin satu sama lain disebut weave. Sebagian besar produk tenun dibuat dengan cara tiga tenun dasar:.  plain weavesatin weave, or twill.  Kain tenun biasanya polos (dalam satu warna atau membentuk pola sederhana), atau dapat ditenun membentuk desain dekoratif dan artistik.

Secara umum, tenun melibatkan alat tenun (loom) untuk menjalin dua set benang dari sudut kanan: lungsin yang berjalan longitudinal kemudian pakan melintasinya.

Satin Weave

Plain Wave Pattern


Plain Wave Structure


Twill Weave



Sejarah Tenun

Ada beberapa indikasi bahwa tenun sudah dikenal sejak era Paleolitik. Sebuah cetakan tekstil samar telah ditemukan di situs Dolní Vestonice.

Produksi tekstil  sudah ada sejak Neolitik, didukung oleh penmuan 2013 kain linen di pemakaman F. 7121 di situs Çatalhöyük, mengindikasikan kain kain tsb berasal dari era 7000 SM. Satu fragmen yang berasal dari Neolitik ditemukan di Fayum, di sebuah situs berusia sekitar 5000 SM. Fragmen ini menjalin sekitar 12 benang dengan benang per 9 cm dalam tenunan polos. Flax adalah serat dominan di Mesir , Lembah Nil (3600 SM), meskipun wol menjadi serat utama yang digunakan dalam budaya lain sekitar 2000 SM.

Tenun dikenal di semua peradaban besar, tetapi tidak ada sebab akibat yang jelas. Awalnya, dibutuhkan dua orang untuk menenun, dan satu orang untuk melewati mengisi. Para penenun seringkali anak-anak atau budak. Tenun menjadi lebih sederhana ketika benang lungsing diberi ukuran.


China


Tenun sutra dari kepompong ulat sutra telah dikenal di Cina sejak sekitar 3 500 SM. Tenun sutra yang dicelup, yang menunjukkan kerajinan telah berkembang, telah ditemukan di sebuah makam Cina 2.700 SM.


Tenun sutra menyebar ke Korea seitar 200 SM, ke Khotan 50 SM, dan ke Jepang sekitar 300 SM.


Dunia Islam


Pada 700 Masehi, alat tenun horizontal dan vertikal ditemukan di banyak bagian Asia, Afrika dan Eropa. Salah satu inovasi dari zaman keemasan Islam adalah tenun pedal dimana pedal ditambahkan untuk pengoprasian. Perangkat tersebut pertama kali muncul di bagian Islam Afrika Timur, Suriah dan Iran. Islam mewajibkan umatnya untuk menutupi diri dari leher sampai mata kaki, hal tersebut meningkatkan permintaan akan kain. Di Afrika, orang kaya memakai pakaian berbahan kapas (cotton) sedangkan orang miskin akan memakai wol. Tahun 1177, alat tenun dikembangkan di Moor Spanyol, di mana bingkai tenun ditinggikan dan dibesarkan. Ide ini diadopsi oleh penenun wol Kristen dan menjadi alat tenun standar Eropa.


Eropa

Awalnya kain banyak dibuat dari wol, linen dan  nettlecloth untuk kelas bawah. Kapas (Cotton) diperkenalkan oleh Sisilia ke Spanyol di tahun 800-an. Ketika Sisilia ditangkap oleh Normandia, mereka mengambil teknologi untuk Italia Utara dan kemudian disebarkan ke seluruh Eropa. Produksi kain sutra diperkenalkan kembali menjelang akhir periode ini.

Penenun bekerja di rumah dan memasarkan kainnya di pameran. Tenun menjadi kerajinan perkotaan dan untuk mengatur perdagangan, pengrajin menerapkan serikat dagang. Awalnya hanya ada serikat pedagang, tetapi berkembang menjadi serikat perdagangan terpisah untuk setiap keterampilan. Pedagang kain yang merupakan anggota dari sebuah serikat penenun kota diizinkan untuk menjual kain, ia bertindak sebagai perantara antara penenun dan pembeli. Anggota serikat dagang mengontrol kualitas dan pelatihan yang dibutuhkan sebelum pengrajin bisa menyebut dirinya penenun.

Pada abad ke-13, perubahan organisasi terjadi. Pedagang kain membeli kain wol dan diberikan kepada penenun, lalu penenun menjual produknya kembali ke pedagang. Pedagang mengontrol tingkat upah sehingga menguasai ekonomi industri kain. Kemakmuran para pedagang tercermin di kota-kota wol, Inggris timur., seperti Norwich, Bury St Edmunds dan Lavenham. Wol pada masa itu dipolitisir. Pasokan benang selalu membatasi produksi penenun. Namun, metode dan alat penenun kian berkembang sehingga memudahkan proses produksi.

Tidak seperti abad ke 13 yang relatif damai, pada abad ke-14 eropa mengalami kelebihan penduduk. Cuaca buruk menyebabkan kelaparan dan serangkaian panen yang buruk. Para pedagang mengalami kerugian karena terjadi Hundread Years War. Kemudian pada 1346, terjadi fenomena Black Death dimana penduduk berkurang hingga setengah. Tanah yang subur dan produksi padat karya tidak lagi dapat ditemukan. Harga tanah turun, dan tanah-tanah dijual kemudian dimanfaatkan untuk penggembalaan domba. Pedagang dari Florence dan Bruges ingin membeli wol, maka para penggembala domba mulai menenun diluar peraturan Serikat Dagang. Awalnya para penenun bekerja di rumah mereka sendiri, kemudian produksi dipindahkan ke bangunan pabrik. Jam kerja dan jumlah pekerjaan mulai diatur. Darisinilah sistem output kain tradisional digantikan dengan sistem pabrik.



Penenun Huguenot, Calvinis, melarikan diri dari penindasan agama, bermigrasi dari daratan eropa ke Inggris sekitar tahun 1685. Mereka datang dari Flanders dan kota-kota besar tenun sutra Perancis, seperti Lyon Dan Tours. Mereka singgah di Canterbury, kemudian sekitar 13,050 orang pindah Ke Spitalfields di London. Yang lainnya pindah ke kota tenun sutra Macclesfield. Kedatangan mereka menantang penenun kapas dan wol, berakibat penenun Inggris belajar banyak kepada penenun Huguenot yang lebih superior.


Tenun Tradisional

Tenun Tradisional



Tenun Tahun 1500-1800

Kolonial Amerika sangat bergantung pada Inggris untuk segala macam barang-barang manufaktur. Sementara, Inggris mempunyai kebijakan  untuk mendorong produksi bahan baku dan mencegah manufaktur di Amerika. Terjadi fenomena The Wol Act tahun 1699 dimana ekspor wol dibatasi. Akibatnya banyak orang menyukai serat kain yang diproduksi secara lokal. Para penjajah juga menggunaan wol, katun dan kain rami untuk menenun, meskipun rami dapat dibuat menjadi kanvas / kain berat. Awalnya produksi benang berjalan lambat, hingga akhirnya produksi padat karya kembali dilakukan seiring ditemukannya cotton gin

Cotton Gin


Pada masa ini tenunan polos lebih disukai karena diperlukan keterampilan dan tambahan waktu untuk membuat tenun artistik.



Revolusi Industri

Sebelum Revolusi Industri, tenun merupakan kerajinan manual dan wol adalah produk utamanya. Proses menenun yang memakan waktu tidak lagi diperlukan setelah John Kay menemukan flying shuttle pada tahun 1733.  Pembukaan Terusan Bridgewater pada Juni 1761 memungkinkan kapas untuk dibawa ke Manchester, daerah dimana tenaga air dapat digunakan untuk mesin listrik. Hal ini menyebabkan stok benang tak terbatas untuk penenun.

Flying Shuttle


Nama-nama seperti Edmund Cartwright , Mayor John Cartwight turut andil dalam proses revolusi industri dengan membangun pabrik-pabrik manufaktur yang merubah industri rumahan menjadi industri padat karya. Edmund Cartwight diberikan hadiah sebesar £ 10.000 oleh Parlemen untuk usahanya pada tahun 1809. Pembuatan tekstil adalah salah satu sektor Revolusi Industri yang unggul di Inggris, tapi tenun adalah sektor yang relatif lambat kemajuannya. Alat tenun menjadi semi-otomatis pada tahun 1842, berbagai inovasi industri manufaktur logam besar dilakukan untuk menghasilkan alat tenun.

Pewarna alami awalnya digunakan untuk mewarnai kain, kemudian pewarna sintetis muncul pada paruh kedua abad ke-19.

Penemuan alat tenun Jacquard sekitar 1803 di Prancis, memungkinkan untuk menenun kain bermotif di produksi masal, dengan menggunakan beberapa komponen untuk menentukan benang benang berwarna yang dikehendaki muncul di atas kain.

Alat tenun Jacquard










Hasil Kerajinan Tenun


Twill Weave (Tenun Twill Pada Kain Denim)

Plaid Weave ( Tenun Polos Tidak Berpola)

Satin Weave ( Menghasilkan Tekstur Kain Yang Lebih Lembut)
















Wednesday, 13 August 2014

Mengenal Tipe-Tipe Kerah Pakaian

Dalam pakaian, kerah adalah bagian yang terikat di sekitar leher. Pada kontruksi pakaian profesional, kerah dibedakan menjadi revers dan kerah, dibuat dari bagian kain yang terpisah, bukan dilipat atau memotong bagian dari bagian yang sama dari kain yang digunakan untuk tubuh utama garmen.

Ascot Collar


Aplikasi Ascot Pada Dasi Pria

Albany Collar







Band / Grandad Collar 









Barrymore Collar








Bertha Collar









Bustler Brown Collar










Butterfly / Wing Collar










Button-Down Collar









Camp Collar









Cape Collar








Chelsea Collar









Clerical Collar











Convertible Collar 









Cossack Collar








Detachable Collar











Double Round Collar









Edwardian Collar











Eton Collar











Falling Band Collar











Fichu Collar










Gladstone Collar












High Collar Neck










HRH Collar










Imperial / Poke Collar











Jabot Collar











Johnny Collar











Mandarin / Chinnese / Shanghai Collar













Mao Collar











Masonic Collar











Medici Collar










Middy Collar










Mock Collar












Napoleonic Collar











Nehru Collar









Notched Collar










PeterPan Collar











Picadilly Collar











Pierrot Collar










Poet Collar 












Popped Collar










Pussy Bow











Revere Collar











Rolled Collar








Ruff Collar







Shawl Collar











Spread Collar










Tab Collar








Van Dyke Collar








Y Collar